Istriku Seorang CEO

 
 
 
Angga menatap layar laptop di meja makan yang juga berperan sebagai mejanya bekerja dari rumah. Layar menunjukkan grafik penjualan yang melambung tajam selama tiga bulan terakhir, namun wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan sama sekali. Tangannya secara refleks menggosok perut yang sedikit kembung – istrinya, Dara, sudah tiga bulan tidak ada di rumah karena proyek ekspansi cabang baru perusahaan di Kota Surabaya.
 
"Sudah jam sembilan malam, Mas. Mau saya antar makanan saja?" suara Ibu Sumarti, pembantu yang telah bekerja di rumah mereka selama lima tahun, terdengar dari arah dapur.
 
Angga mengangguk perlahan. "Terima kasih, Bu Marti. Cukup nasi putih dan lauk yang ada saja ya."
 
Saat makanan diletakkan di depan nya, suara dering telepon muncul dari meja samping sofa. Layar menunjukkan nama "Dara – CEO Startech Indonesia". Angga mengambilnya dengan napas dalam.
 
"Halo, Sayang..."
 
"Angga, maaf ya saya telat menghubungi. Proyeknya baru selesai tahap pertama, dan tim saya baru saja menyelesaikan kontrak dengan klien besar. Kita berhasil menangkal pesaing dari luar Jawa!" Suara Dara terdengar penuh semangat, namun juga jelas terlihat kelelahan.
 
Angga tersenyum meskipun istrinya tidak bisa melihatnya. "Selamat ya, Sayang. Kamu pasti sudah capek banget kan? Sudah makan belum?"
 
Ada jeda sebentar di ujung lain jalur. "Belum nih. Tim mau makan malam bersama untuk merayakan. Tapi aku pengen cerita sama kamu dulu." Dara menghela napas. "Kamu tahu kan, beberapa minggu yang lalu aku harus memecat tiga karyawan karena melakukan kecurangan dalam pengelolaan anggaran proyek. Mereka bukan hanya karyawan, tapi salah satunya adalah teman kuliahku dulu, Angga. Rasanya seperti menusuk diri sendiri dengan jarum yang sama."
 
Angga menghela napas panjang. Dia tahu betul betapa beratnya keputusan seperti itu bagi Dara. Meskipun sebagai CEO perusahaan teknologi terkemuka di Jawa Timur, Dara tidak pernah melihat dirinya sebagai sosok yang berada di atas segalanya. Ia selalu memperlakukan setiap karyawan sebagai bagian dari keluarga besar Startech.
 
"Kamu sudah lakukan yang terbaik, Sayang. Kalau kamu biarkan mereka terus, maka jutaan rupiah uang investor dan masa depan ratusan karyawan lain akan terancam. Kamu harus berpikir untuk banyak orang, bukan hanya satu atau dua orang saja," ujar Angga dengan lembut.
 
"Iya, aku tahu. Tapi rasanya tidak mudah, Mas. Kadang aku merasa orang bilang CEO itu harus keras dan tidak punya perasaan, tapi bagaimana mungkin bisa? Aku juga manusia yang punya hati dan perasaan." Suara Dara mulai sedikit bergetar. "Kemarin aku melihat salah satu mantan karyawan itu menangis di depan kantor saat dia mengambil barang-barangnya. Dia bilang dia terpaksa melakukan itu karena anaknya sakit dan butuh biaya besar. Aku mau membantu tapi tidak bisa – kalau aku lakukan itu, bagaimana dengan keadilan bagi yang lain?"
 
Angga menutup laptopnya dan mendekatkan telinga pada ponsel. "Kamu sudah lakukan yang benar, Sayang. Nanti kalau kamu sudah pulang, kita bisa cari cara lain untuk membantu dia secara pribadi saja. Bukan dengan uang perusahaan, tapi dari kita berdua."
 
Setelah beberapa menit lagi berbicara dan memastikan Dara akan segera makan, mereka mengakhiri panggilan. Angga melihat makanan yang sudah agak dingin di depan nya. Ia mencoba makan tapi rasanya seperti tanpa cita rasa. Sejak Dara menjadi CEO dua tahun yang lalu, kehidupan mereka berubah drastis.
 
Sebelumnya, Dara hanya sebagai direktur operasional. Mereka masih punya waktu untuk makan malam bersama setiap hari, jalan-jalan ke pasar pada hari Minggu, atau sekadar menonton film di rumah. Namun setelah dia diangkat menjadi CEO menggantikan ayahnya yang harus pensiun karena sakit, waktu bersama menjadi sesuatu yang sangat berharga dan langka.
 
Angga sendiri adalah seorang konsultan keuangan yang bekerja lepas. Ia bisa mengatur waktu sendiri, namun hal itu tidak membuat rasa rindu pada istri nya berkurang. Malah seringkali, ketika dia pulang dari pertemuan dengan klien, rumah hanya sepi dengan suara kipas angin dan televisi yang menyala tanpa ada yang menontonnya.
 
Beberapa hari kemudian, tepat pada hari Sabtu pagi, pintu rumah terdengar dibuka. Angga yang sedang memasak sarapan langsung berbalik dan melihat Dara berdiri di pintu dengan koper di satu tangan dan bunga mawar merah di tangan yang lain. Wajahnya pucat dan mata nya tampak lelah, tapi dia tersenyum lebar.
 
"Sayang!" Angga segera berlari mendekat dan memeluknya erat. "Kamu sudah pulang? Bukannya bilang minggu depan saja?"
 
Dara memeluknya kembali dengan erat, meletakkan bunga dan koper di lantai. "Aku mengatur jadwal agar bisa pulang sebentar. Rindu banget sama rumah, sama kamu, sama masakanmu."
 
Setelah berpelukan cukup lama, mereka duduk di meja makan sambil menikmati sarapan yang sudah jadi. Dara memang banyak makan – jelas dia sudah tidak makan dengan baik selama beberapa hari terakhir.
 
"Kamu kurus banyak nih, Sayang," ujar Angga sambil menaruh sayuran di piring Dara.
 
Dara tersenyum sambil mengunyah. "Ya ampun, kamu jadi seperti ibu saya aja. Tapi iya, mungkin memang kurang makan karena banyak pikiran. Proyek ekspansi ini benar-benar menyita banyak energi. Banyak orang yang meragukan aku bisa menjalankan perusahaan karena aku perempuan dan masih muda – baru tiga puluh empat tahun."
 
"Apa mereka masih bilang hal seperti itu?" tanya Angga dengan wajah sedikit memerah karena kesal.
 
"Bukan secara langsung, tapi ekspresi wajah dan cara mereka bicara sudah cukup jelas. Beberapa mitra bisnis bahkan bilang mereka lebih suka berurusan dengan pria karena dianggap lebih tegas dan tidak mudah terbawa emosi." Dara mengambil tegukan teh hangat. "Tapi aku tidak mau jadi seperti itu, Mas. Aku percaya bahwa menjadi pemimpin yang baik tidak harus dengan cara keras dan tidak peduli. Kita bisa tetap profesional tapi juga manusiawi kan?"
 
Angga mengangguk. "Tentu saja. Itu yang membuat kamu berbeda dengan CEO lain, Sayang. Kamu melihat setiap orang sebagai individu yang punya cerita dan masalah masing-masing."
 
Namun, tidak semua hal berjalan mulus. Beberapa minggu kemudian, ketika Dara sedang bekerja di ruang kerjanya yang juga berada di rumah (karena dia perlu bekerja dari rumah beberapa hari untuk bisa lebih banyak bersama Angga), sebuah panggilan darurat datang dari kantor. Ada masalah besar dengan sistem baru yang baru saja diluncurkan – banyak pengguna mengeluhkan adanya bug yang membuat data mereka berisiko terkompromi.
 
Dara langsung berdiri dan mulai mengatur timnya melalui telepon dan pesan instan. Wajahnya yang tadinya rileks kini menjadi serius dan fokus. Angga melihatnya dari kejauhan dan bisa merasakan tekanan yang dia rasakan.
 
Dalam waktu dua jam, Dara sudah mengatur segala sesuatunya – tim teknis bekerja cepat untuk memperbaiki bug, departemen hubungan masyarakat mempersiapkan pernyataan resmi, dan departemen hukum memeriksa segala kemungkinan konsekuensi hukum. Namun, ketika semua sudah teratur, Dara tiba-tiba duduk lemah di kursinya dan menangis dengan tersedu-sedu.
 
Angga segera mendekat dan membungkuskan tangan nya di pundak istri nya. "Sudah baik saja, Sayang. Kamu sudah mengatur semuanya dengan baik."
 
Dara mengangkat wajahnya yang berkaca-kaca air mata. "Tapi kenapa ini bisa terjadi? Aku sudah memeriksa berkali-kali sebelum peluncuran. Aku merasa seperti telah mengecewakan semua orang – karyawan, investor, dan pengguna kita."
 
"Kesalahan adalah bagian dari kehidupan, Sayang. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yang penting adalah bagaimana kita memperbaiki dan belajar dari kesalahan itu," ujar Angga dengan lembut sambil menyeka air mata di wajah Dara.
 
"Aku takut kalau ini akan membuat perusahaan terpuruk. Aku takut kalau ayah akan kecewa padaku. Dia menyerahkan perusahaan padaku dengan penuh kepercayaan," ujar Dara sambil menangis.
 
Angga menarik Dara agar menghadapinya. "Ayahmu memilih kamu karena dia tahu kamu bisa menjalankannya dengan baik. Dia tahu kamu punya hati yang baik dan kepala yang jernih. Kesalahan ini bukan akhir dari segalanya. Kita akan melalui ini bersama, ya?"
 
Setelah menangis cukup lama, Dara akhirnya bisa tenang dan mulai makan makanan yang sudah disiapkan Angga. Malam itu, mereka duduk bersama di teras rumah, melihat langit yang penuh bintang sambil membicarakan berbagai hal – mulai dari rencana mereka untuk memiliki anak dalam waktu dekat, hingga cara yang bisa dilakukan Dara untuk menangani masalah perusahaan dengan cara yang tetap manusiawi.
 
Beberapa hari kemudian, Dara mengumumkan masalah sistem secara terbuka dan transparan. Ia tidak menyalahkan siapapun, melainkan mengambil tanggung jawab penuh sebagai CEO. Ia juga mengumumkan bahwa perusahaan akan memberikan kompensasi kepada pengguna yang terkena dampak dan akan meningkatkan tim keamanan sistem dengan tenaga ahli terbaik.
 
Tak hanya itu, Dara juga mengundang semua karyawan untuk berkumpul dan berbicara secara terbuka. Ia menjelaskan bahwa kesalahan bisa terjadi pada siapapun, dan yang penting adalah bagaimana mereka bisa bangkit bersama. Ia juga mengumumkan pembentukan program bantuan sosial bagi karyawan yang mengalami kesulitan ekonomi, dengan dana yang dikumpulkan dari sumbangan sukarela para manajemen dan karyawan itu sendiri.
 
Reaksi yang datang jauh lebih baik dari yang diharapkan. Banyak pengguna memberikan dukungan karena menghargai kejujuran perusahaan. Para investor juga memberikan kesempatan karena melihat bahwa Dara adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan tidak berlari dari masalah. Bahkan beberapa pesaing sekalipun memberikan apresiasi atas cara Dara menangani masalah tersebut.
 
Pada hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, Angga membawa Dara pergi ke sebuah tempat yang sangat berarti bagi mereka berdua – pantai tempat mereka dulu sering berkencan saat masih pacaran. Di sana, di bawah sinar bulan yang terang, Angga mengambil sebuah kotak kecil dari saku jasnya.
 
"Dara, cintaku..." ujar Angga sambil menundukkan diri sedikit. "Sejak kamu menjadi CEO, kita menghadapi banyak tantangan. Ada waktu-waktu dimana aku merasa kehilangan kamu karena kesibukanmu, ada waktu dimana aku khawatir karena kamu terlalu banyak memikul beban. Tapi aku juga melihat betapa hebatnya kamu sebagai pemimpin dan sebagai manusia. Kamu membuktikan bahwa seorang CEO bisa sekaligus realistis dalam menjalankan bisnis dan manusiawi dalam memperlakukan orang lain."
 
Ia membuka kotak itu dan menunjukkan sebuah cincin dengan batu permata kecil di tengahnya. "Ini bukan cincin kawin baru, tapi cincin untuk mengingatkanmu bahwa kamu tidak sendirian dalam menjalankan semua ini. Aku selalu ada di sini untukmu, baik sebagai suamimu maupun sebagai temanmu yang setia."
 
Dara menangis bahagia sambil mengangguk. "Terima kasih, Mas. Aku tahu aku seringkali terlena dengan pekerjaan dan melupakan waktu untuk kita berdua. Tapi kamu selalu mengerti dan mendukungku. Tanpamu, aku tidak akan bisa sampai di sini."
 
Setelah Angga memasangkan cincin pada jari Dara, mereka berpelukan erat sambil melihat ombak yang menyapu pasir pantai. Dara mengangkat kepalanya dan melihat mata Angga dengan penuh cinta.
 
"Aku punya kabar baik juga," ujar Dara dengan senyum manis. "Aku sudah mengatur ulang struktur organisasi perusahaan sehingga ada beberapa eksekutif yang bisa membantu aku membagi tanggung jawab. Mulai bulan depan, aku akan punya lebih banyak waktu untuk rumah dan untuk kamu. Kita bahkan bisa merencanakan liburan bersama seperti yang kita inginkan kan?"
 
Angga tersenyum lebar dan mencium dahi istri nya. "Itu kabar terbaik yang pernah kudengar, Sayang. Sekarang kamu bisa lebih banyak menikmati hidup sebagai Dara – bukan hanya sebagai CEO Startech Indonesia."
 
Mereka tetap di pantai sampai tengah malam, berbicara tentang masa depan mereka, berbagi cerita lucu dari masa lalu, dan berjanji untuk selalu saling mendukung dalam setiap langkah hidup. Dara menyadari bahwa menjadi seorang CEO sukses tidak harus mengorbankan kehidupan pribadi dan nilai-nilai manusia yang dia anut. Sedangkan Angga juga menyadari bahwa mencintai seorang CEO berarti mencintai seluruh bagian dari dirinya – termasuk tanggung jawab besar yang dia pikul setiap hari.
 
Di pagi hari, ketika matahari mulai muncul dari balik cakrawala, mereka berdiri dan berjalan pulang tangan di tangan. Langkah mereka terasa lebih ringan dan hati mereka penuh dengan harapan. Mereka tahu bahwa masih banyak tantangan yang akan datang di masa depan, tapi dengan cinta dan pengertian yang mereka miliki, tidak ada yang tidak bisa mereka hadapi bersama.
 
 
 

Post a Comment

0 Comments